-->

Pesta Tapai Di Batu Bara, Merupakan Tradisi Warisan Sejak Zaman Kerajaan Melayu

Batu Bara, Sumut, Perisainusantara.com,| Setiap menjelang Ramadhan layaknya masyarakat muslim diseluruh dunia, masyarakat Kabupaten Batu Bara juga  bergembira menyambut bulan suci ramadhan yang penuh berkah dan ampunan.

Setiap tahunnya ada sebuah tradisi yang sudah bertahan turun temurun yakni Pesta Tapai (tape). Biasanya untuk melengkapi pesta tapai tersebut, dua hari sebelum puasa serta dua hari sebelum Idul Fitri masyarakat Kabupaten Batu Bara menyembelih hewan yang disaksikan oleh masyarakat sekitar. 

Biasanya hewan yang disembelih adalah kerbau atau sapi. Masyarakat setempat biasa menyebutnya dengan ’Mogang’ atau memotong hewan.

Pesta tapai juga dihiasi dengan berbagai macam kehadiran kuliner khas Batu Bara terutama yang menjadi kuliner utama adalah ’Tapai’ dan ’Lomang’ (lemang).

Di sepanjang jalan menuju kota tanjung tiram banyak berdiri kios kios memajang kuliner batu bara, bahkan kuliner yang dijalankan tidak cuman tapai dan lomang, walaupun kuliner tersebut yang paling banyak diburuh para pengunjung. 

Tradisi yang dilakukan untuk menunjang ekonomi masyarakat ini sebenarnya sudah dilakkukan jauh sebelum Negara Indonesia merdeka. Bahkan informasinya sudah dilaksanakan sejak zaman kerajaan Melayu di Batu Bara.

Sejauh ini ada dua versi yang berkembang di tengah masyarakat terkait sejarah awal mulai pesta tapai. Awak media ketika mewawancarai Yusri Bajang selaku tokoh muda melayu di batu bara. Beliau menuturkan "Pertama, Pesta Tapai awalnya diadakan sejak zaman kerajaan Datuk Pesisir, diperkirakan sekitar tahun 1700-an".

Lanjut Yusri "Pada saat itu seorang anak raja datang ke pesisir Batu Bara yang masih semak belukar. Putra raja tersebut kemudian membersihkan semak belukar untuk dijadikan sebuah perkampungan". 

"Seiring berjalannya waktu kampung itu berkembang. Sang Putra Raja lalu membangun perekonomian masyarakat. Diantara usaha yang dilakukan adalah membuat minyak dari kelapa, mengolah hasil tangkapan laut seperti ’kinting kepah’ dan lain sebagainya" Ujar yusri bajang.

"Melalui kegigihan dan kerja keras putra raja dalam membangun perkampungan, masyarakat kemudian memberinya gelar Datuk Muda Abdul Jalil yang disebut juga Datuk Lelawangsa" Tutur yusribajang. 

Gambar: Yusribajang (sumber berita) Tokoh muda melayu

Kemudian yusri melanjutkan "Biasanya Menjelang bulan Ramadhan Datuk Muda mengadakan pemotongan hewan. Dagingnya kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat, sebagai penunjang vitamin dan gizi supaya kuat dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan".

Sedangkan versi kedua menurut yusri adalah  "Pesta Tapai diadakan sejak tahun 1900an. Dahulu masyarakat Melayu sekitar hanya mengadakan acara Mogang yang artinya menyembelih hewan kerbau atau sapi dua hari sebelum puasa dimulai".

"Pada masa dahulu kerbau yang akan disembelih selalu didatangkan dari daerah tapanuli. Sedangkan saat bersamaan ada pedagang kerbau dari Tapanuli yang meminta masyarakat Melayu sekitar Dahari Selebar untuk membuatkan mereka makanan Tapai dan Lemang" Ujar yusri. 

"Hal Inilah yang membuat masyarakat sekitar tanjung tiram menjadi terbiasa membuat makanan lemang dan tapai sebelum acara Mogang dilaksanakan. Hingga kini budaya tersebut telah berlangsung lebih dari 100 tahun" Lanjutnya. 

"Hingga kini dalam perkembangannya jajanan tapai dan lemang tidak lagi disuguhkan untuk pedagang dari Tapanuli, tetapi sudah menjadi tradisi tahunan yang dilakukan setiap bulan sya'ban menjelang bulan Ramadhan, dan semakin dikenal dengan istilah pesta tapai" Tutup yusri.

Sumber: yusribajang

Penulis : Syafi'i

Share:

No comments:

Post a Comment

Artikel

Labels

Budaya (15) ekonomi (3) Kesehatan (13) Organisasi (153) Pemerintahan (93) Pendidikan (132) politik (86) Polri/TNI (6) sosial (106) Sumatera Utara (29)

Blog Archive