-->

Pilkades Bukan Ajang Baper Lokalan

Batu Bara, Perisainusantara.com

Desa adalah representatif ketatanegaraan terkecil dari sebuah negara yang mengaktualisasikan dan mengaplikasikan arti kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan bangsa bagi rakyatnya. Sehingga, lihat saja desa, maka itulah ejawantah dari sebuah negara yang hadir bagi masyarakatnya. 

Saya pribadi, membingkai desa dengan sebuah istilah "semukim", yaitu populasi dan interaksi sosial ekonomi dan politik individu yang terikat secara religius, antropologis dan administratif kenegaraan. Semukim adalah integrasi penataan rumah tangga yang disatukan oleh keterikatan wilayah, yang kita sebut desa. Maka, rumah tangga adalah unsur penting dari sebuah desa. 

Kesatuan populasi dan interaksi didalam visi dan misi disebut pula Korp, sehingga semukim adalah kesatuan dan penataan rumah tangga didalam satu wilayah yang bersamaan tujuan hidup dan berbangsanya. Sehingga, cukup ideal Nabi mengatakan bahwa pernikahan (rumah tangga) adalah separuh penataan hidup sebab kunci-kunci pembinaan itu berada pada lembaga rumah tangga yaitu pembinaan pribadi maupun pembinaan rumah tangga itu sendiri. Identifikasi pembinaan disini adalah pendidikan formil maupun non formil, yang hasil.akhirnya adalah memenuhi rasa ingin tahu anggota lembaga nikah (suami, istri dan anak-anak) dalam platform religi, ekonomi dan pengetahuan seumumnya. 

Dinamika hari ini, Indonesia mengenal otonomi daerah yang menganut sistem tatanegara yang mengatur hingga peringkat desa terutama dalam hal pemilihan pemimpinnya yang disebut Kepala Desa, diakomodasi dgn hajatan bernama pilkades (Pemilihan Kepala Desa). Tak kalah euforia dan semangatnya, pilkades memberikan rona-rona dan gairah tersendiri bagi aktifitas bernegara di desa-desa, tak ayal pula membawa petaka sosial didalam konflik horizontal berskala mini. 

Saya pribadi, menyatakan miris, sebab saya menyadari betul bahwa keberadaan kita sebagai warga semukim yang disatukan oleh identitas pertalian darah dan persamaan latar belakang primordial, cukup kuat utk mengikat kita didalam bingkai kesepemahaman didalam mengawal helatan paling akbar ditingkat desa ini. Sehingga tak perlulah, ada intrik sosial picisan dan baper lokalan yang harusnya membuat kita malu dikarenakan kekurangan dewasaan akhlak politik kita yang disinyalir disebabkan pendidikan yang kita terima tak memenuhi tujuan akhir pendidikan yaitu membentuk pandangan dan penilaian didalam hidup. 

Entoch, yang kita bersinggungan itu adalah orang-orang yang hari-hari kita temui didalam interaksi soal harian kita. Pertanyaannya, apa mau menanggung sungkan selama 6 tahun kedepan?.

Saya bukan mau mengedapankan budaya permisif, namun memang baper lokalan itu tidak diperlukan karena pemilihan kepala desa ini hanya sesederhana memilih kepala daerah yang terbaik yang tersedia, mengawal setiap rencana program kerjanya serta program pemerintah. Diluar itu semua, interaksi sosial bisa terekam dengan baik di teritorial desa yang sempit. 

Maka pesan saya, didiklah anggota rumah tangga kita menjadi dewasa dalam hal memimpin dan dipimpin, itulah nanti yang akan terlihat pada hajatan yang kita laksanakan Rabu, 16 November 2022 khususnya di Kab. Batu Bara, Sumatera Utara 

Jadilah pemilih yang bijak, karena pemilih yang bijak akan melahirkan pemimpin yang bijak pula, sedangkan pemilih yang baper akan menjadikan pemimpin yang dipilih lebih baper. 

Selamat kepada "Pemimpin Desa" Yang terpilih

Kepada lainnya, selamat pula menjadi pendukung program kades pilihan kita semua. 

Selasa, 15 November 2022

Disusun oleh Danil Fahmi, SH.

Gambar: Danil Fahmi, SH



Share:

No comments:

Post a Comment

Artikel

Labels

Budaya (16) ekonomi (3) Kesehatan (13) Organisasi (175) Pemerintahan (101) Pendidikan (136) politik (90) Polri/TNI (6) sosial (107) Sumatera Utara (29)

Blog Archive