-->

Lelucon, Cara Menjadi Presiden Ala Cak Imin

LELUCON " CARA MENJADI PRESIDEN " ALA CAK IMIN

(Seri Politik Nasional)  Oleh :Irwansyah Nasution






BATU BARA - Perisainusantara.com

Kita rehat sejenak dari kepenatan melihat urusan serius  para kandidat capres cawapres dalam menentukan pasangan koalisi melakukan deal deal politik .Seperti terlihat Cak Imin mendatangi Hamzah Haz  sebagai mantan wakil presiden yang disebut Muhaimin  meminta doa dan saran  "cara menjadi presiden'.kepada Hamzah Haz .Muhaimin Ketum PKB yang memiliki selera humor tinggi  dalam menggunakan komunikasi politik seperti nya ingin membuat rekor baru dalam urusan dukung mendukung dengan memilih  gaya komunikasi santai dan menghindari ketegangan yang terkadang diperlukan dalam situasi tensi politik yang meninggi.

Jalan komunikasi politik ala cak Imin dengan ekspresi dan candaan satir diperlukan sebagai oase komunikasi politik seperti menggunakan kalimat imannya AHY terlalu kuat untuk di goda beralih ke kubu koalisi Cak Imin saat menanggapi pertanyaan wartawan terhadap hasil pertemuan nya pada AHY membuat publik ikut tertawa ,ternyata politik  bisa juga di bawa tertawa tidak tegang melulu mengurangi kecemasan publik yang terkadang larut dengan kecemasan dalam menafsirkan berbagai percakapan dan penampilan politisi di publik.

Komunikasi politik yang ditampilkan para politisi sebisanya diharapkan dapat meredakan konflik terbuka walaupun itu dapat dikatakan mustahil karena wilayah kompetisi politik penuh trik dan intrik untuk menegosiasikan kepentingannya mendapatkan kekuasaan dari rakyat gaya politik ini sebenarnya bukan gaya dan ala Indonesia yang terkenal santun dalam berkomunikasi namun karena perkembangan ilmu politik dan praktek praktek politik yang ditransfer dari barat yang kita kenal wilayah Trias politika ,eksekutif legislatif dan edukatif memerlukan kemampuan kecerdasan dalam mengimplementasikan dunia komunikasi politik berkembang dari perdebatan  rasional ke hujatan emosional yang kadang berlebihan .

Cak Imin mampu menukar ketegangan jadi  politik penghargaan terhadap lawan politiknya   yang sering disebut etika politik memang sangat diperlukan saat ini setelah melewati tukar menukar kepentingan dalam komunikasi politik walau tidak berhasil mengharapkan lawan politiknya diajak bergabung setidaknya tidak pula memaksakan kehendak karena perbedaan pandangan politik .Politik  kegembiraan atau bergembira dalam berpolitik demokrasi begitu indahnya seperti yang di ajarkan Islam bagi kamu agamamu ,bagiku agamaku ,aku tidak  menyembah( pilihan ) tuhan yang kamu sembah,kamu tidak menyembah( pilihan ) tuhan yang aku sembah.

Terkadang kita hampir kehilangan nalar dalam mencium aroma politik ,bahkan cara berpolitik keindonesiaan yang pernah dipraktekkan para pendiri negara seperti Muhammad Natsir , Soekarno,M.Yamin,Hatta,Sutan Syahrir para tokoh kebangsaan ini dalam perdebatan politik tahu menempatkan urusan publik dan urusan private (pribadi) tidak mencampur adukkan sehingga walau ada perbedaan tajam namun mereka bisa minum kopi bersama seperti yang kita baca dibuku sejarah kejuangan tokoh bangsa betul betul indah dalam menempatkan perbedaan pandangan politik layak jadi suri tauladan tokoh kini.

Cak Imin selaku ketua umum partai PKB menampilkan  komunikasi politik Indonesia tampak berbeda ,membawa kegembiraan soal siapa memilih siapa berpasangan dan bergabung dengan siapa ini hanyalah simbolik dari perbedaan  berdemokrasi tidak harus membuat politik ber sitegang apalagi saling mengancam jika memang politik dimainkan memaksa dengan kekuasaan sesungguhnya ia bukan berpolitik demi kepentingan  rakyat tapi demi kekuasaan pribadi dan kelompoknya saja ,bukan contoh yang baik.

Kita memang memerlukan contoh yang baik terutama para pemimpin politik partai dan kekuasaan ditingkat pusat agar perpolitikan di garis bawah dapat mengambil cara cara yang tepat dan terhormat dalam melakukan komunikasi politik seperti   tampilan publik cak Imin sebagai politisi yang berlatar belakang santri ini memulai nya .

Pengamat Sosial Politik dan Kebijakan Publik LKPI.

Share:

No comments:

Post a Comment

Artikel

Labels

Budaya (16) ekonomi (3) Kesehatan (13) Organisasi (175) Pemerintahan (101) Pendidikan (136) politik (90) Polri/TNI (6) sosial (107) Sumatera Utara (29)

Blog Archive